Dorong Pengembangan EBT, PLN Enjiniring Lakukan Studi Sistem Evakuasi Listrik PLTA Mentarang

Listrik Update- Perusahaan Listrik Negara (Persero) melalui anak usaha PLN Enjiniring (PLNE) menggandeng PT Kayan Hydropower Nusantara (KHN) untuk kerja sama studi sistem evakuasi listrik Pembagkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mentarang Induk. Kerja sama ini merupakan bagian dari upaya perseroan dalam mendorong pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Direktur Utama PLNE Didik Sudarmadi bersama Direktur Utama KHN Antony Lesmana, dan disaksikan oleh Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang, Wakil Gubernur Kalimantan Utara, Yansen Tipa Padan beserta Direktur Manajemen Sumber Daya Manusia PLN, Syofvi F. Roekman. Perjanjian kerja sama tersebut berlaku hingga Juni 2023.

“Kerja sama ini merupakan wujud peran serta PLNE dalam mempersiapkan sistem evakuasi listrik pada PLTA Mentarang Induk untuk memastikan pembangunan berkelanjutan dan pasokan listrik yang andal,” ujar Didik dalam keterangan resmi, Selasa, 13 April 2021.

Dirinya menambahkan, kerja sama terkait pelaksanaan studi sistem kegiatan enjiniring pra-konstruksi akan meningkatkan porsi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di bidang jasa sesuai dengan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 16 tahun 2011 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri.

PLTA Mentarang Induk terletak 35 km dari Kota Malinau, Kalimantan Utara akan memiliki total kapasitas daya mencapai 1.375 megawatt (MW) dan berpotensi menjadi PLTA terbesar di Indonesia.

“Jika PLTA ini berjalan sesuai rencana maka tenaga listrik yang akan dihasilkan akan diusulkan untuk dievakuasi melalui transmisi 500 kV sepanjang 230 km dari Malinau melewati Tanah Tidung dan Bulungan sampai ke Tanah Kuning. Rencana ini akan dikonfirmasi melalui hasil studi sistem evakuasi listrik yang akan kami percayakan ke PLNE,” ucap Antony.

PLTA Mentarang Induk direncanakan dapat memenuhi rencana pembangunan Smelter Aluminium oleh PT Inalum di Tanah Kuning dengan kebutuhan daya mencapai 850 MW dan interkoneksi ke jaringan 150 kV di Provinsi Kalimantan Utara untuk kebutuhan pasokan daya yang akan datang, serta dimungkinkan untuk interkoneksi dengan Sabah, Malaysia.

TERBARU

spot_img