Gunakan PLTS Atap, Apa Syarat Pelanggan Terbebas Dari Listrik PLN?

Listrik Update-Pemerintah terus berupaya mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025. Salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan menggencarkan penggunaan  Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)

PLTS dinilai bisa mempercepat bauran EBT karena proses pemasangan yang cepat dan mudah dibandingkan jenis pembangkit EBT lainnya. Konsumen rumah tangga pun dapat ikut serta berkontribusi dengan memasang PLTS Atap.

Namun yang jadi pertanyaan adalah apakah pelanggan yang memasang PLTS Atap bisa terbebas dari listrik PLN? Apa Syarat pelanggan ini bisa terbebas jual beli listrik dengan PLN?

Executive Vice President of Engineering and Technology PLN Zainal Arifin mengatakan berdasarkan kajian, pelanggan bisa benar-benar terbebas dari jaringan listrik PLN bila harga listrik PLTS Atap dan baterainya bisa 10% lebih murah dari Biaya Pokok Penyediaan (BPP) Listrik PLN, tepatnya ketika tarif listrik dari PLTS Atap ini bisa mencapai sekitar Rp 1.103 per kWh, lebih murah dari tarif listrik PLN Rp 1.467 per kWh.

“Kapan kira-kira pelanggan bisa totally independent? hasilnya (kajian) memang ketika PV Rooftop 10% akan lebih murah, kemungkinan di tahun 2031,” tuturnya dalam diskusi daring, Kamis (20/05/2021).

Dia mengatakan, sampai dengan tahun 2031 pelanggan masih akan terkoneksi dengan jaringan PLN karena menurutnya jaringan baterai belum ada dan belum layak.

“Masih ada waktu buat PLN, sebelum 2031 pelanggan PLN masih akan connect ke jaringan PLN karena PV Battery belum feasible. 2031 bisa independent, ini tantangan kita karena semua bisnis model PV positif,” ujarnya.

Dia mengakui, ke depan penggunaan PLTS akan sangat mempengaruhi utilitas listrik.

Lebih lanjut dia menjelaskan, berdasarkan hasil survey B&V’s, dari 206 perusahaan listrik dunia, sebesar 71,7% menyebut jika PLTS paling berpengaruh. Disusul tempat penyimpanan energi baterai (battery storage) dengan persentase 32,3%.

“Ini pilihan yang suka nggak suka yang akan dihadapi dan atasi. Dalam tataran practical destruktif terjadi dalam skala signifikan,” ungkapnya.

Zainal mengatakan, pernah mengirim beberapa orang dari PLN untuk mengetahui apa dampak PLTS Atap pada bisnis PLN. Salah satunya menjawab instalasi PLTS Atap dengan tiga skema bisnis hasilnya Net Present Value (NPV) positif.

“Artinya, akan balik modal dan feasible secara ekonomi,” ujarnya.

Menurutnya, EBT adalah suatu keniscayaan, PLN pun ikut berkomitmen untuk mendorong bauran energi baru terbarukan 23% pada 2025. Kapasitas pembangkit EBT PLN saat ini sebesar 12,6% dari total pembangkit listrik yang ada.

“Kita komitmen menuju ke carbon neutral. Harus cari momentum 300 Tera Watt hour (TWh) produksi dan masih ada beban pembangkit 35 GW yang mayoritas fossil fuel,” ungkapnya.

TERBARU

spot_img