Komitmen Pada EBT, PLN Siap Jadi Offtaker Listrik Hasil Olahan Sampah

Listrik Update-Perusahaan Listrik Negara (Persero) menyampaikan kesiapannya untuk membeli listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan, salah satu PLTSa yang siap dibeli listriknya oleh PLN yaitu PLTSa Benowo di Surabaya yang baru saja beroperasi dan diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Kamis (06/05/2021).

“Kami kemarin hadir di acara peresmian PLTSa Benowo Surabaya yang hasilkan listrik sekitar 9 Mega Watt (MW) dan kami hadir di sana tunjukkan komitmen PLN pada tenaga listrik dari EBT, kami menjadi off taker (pembeli listrik),” ungkap Zulkifli dalam diskusi terkait ‘Program Co-Firing dan Konversi EBT’, Jumat (07/05/2021).

Dia mengatakan, setidaknya ada 12 tempat atau 12 kota yang berencana akan membangun PLTSa. Adapun proyek PLTSa Benowo menjadi proyek pertama PLTSa yang diresmikan.

“PLTSa Benowo adalah proyek pertama PLTSa yang bisa diresmikan dan bisa terwujud setelah bertahun-tahun upaya kita lakukan,” tuturnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, produksi sampah di Surabaya per harinya mencapai 4.000 ton. Sementara yang terserap untuk kebutuhan PLTSa Benowo berkapasitas 9 MW ini hanya 1.000 ton per hari. Artinya, masih ada sisa 3.000 ton sampah potensial yang belum terserap per harinya.

“Jadi baru 1/4-nya, masih ada 3.000 ton sampah per hari yang belum diproses, karena kapasitas pembangkit baru 1.000 ton,” tuturya.

Namun demikian, pihaknya akan terus mengupayakan agar sisa sampah sebesar 3.000 ton per hari ini bisa diolah.

Zulkifli mengatakan, saat ini sedang dilakukan diskusi untuk pemanfaatan 3.000 ton sampah tersebut. Salah satu caranya menurutnya yaitu dengan mengolah sampah menjadi biomassa atau pelet sebagai bahan baku untuk co-firing PLTU.

Co-firing merupakan proses menambahkan biomassa sebagai bahan bakar pengganti parsial atau campuran batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

PLN menurutnya sangat terbuka dalam melakukan kerja sama di waktu-waktu yang akan datang. Karena PLTSa dan co-firing, selain memproduksi listrik, menurutnya juga bisa menjadi solusi lingkungan.

“Bagaimana sampah itu kita berdayakan menjadi listrik, bisa PLTSa atau dijadikan pelet yang digunakan dalam co-firing PLTU di lokasi pembuangan sampah. Jadi, masalah sampah tidak hanya kelistrikan. tapi juga kelola lingkungan dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Zulkifli menambahkan bahwa PLN berkomitmen dalam melaksanakan tugas pemerintah mencapai bauran energi 23% pada 2025 mendatang, di mana target tersebut juga sudah dituangkan dalam strategi PLN dan transformasi PLN.

Sementara itu, Direktur Mega Proyek PLN M. Ikhsan Asaad mengatakan, dengan co-firing, maka masalah sampah bisa dirampungkan dan bisa menjadi substitusi batu bara dengan pelet sampah. Menurutnya, belanja modal (capital expenditure/ capex) yang dibutuhkan untuk mengubah sampah menjadi pelet tidak besar.

“Angka kami kemarin dari uji coba di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing Tangerang itu kira-kira dengan 100 ton per hari Rp 24 miliar, lebih efisien dari bangun PLTSa,” ungkapnya.

TERBARU

spot_img