Home LISTRIK UPDATE PLN: Sempat Menipis Awal Tahun, Kini Stok Batubara Sudah Meningkat

PLN: Sempat Menipis Awal Tahun, Kini Stok Batubara Sudah Meningkat

Lokasi Tambang Batubara

Listrik Update-Awal tahun 2021 ini terjadi musibah banjir di Kalimantan Selatan (Kalsel) yang berdampak pada terganggunya proses pertambangan dan distribusi batu bara. Kondisi ini pun menyebabkan stok batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PT PLN (Persero) sempat menipis.

Kini, menurut PLN, kondisinya sudah cukup membaik dan stok sudah meningkat.Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Energi Primer PLN Rudy Hendra Prastowo.

Dia mengatakan, stok batu bara untuk pembangkit listrik PLN saat ini sudah di atas 15 hari. Pada akhir Januari 2021 lalu, saat ada gangguan pasokan batu bara akibat banjir di daerah tambang Kalimantan Selatan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut bahwa stok batu bara PLN hanya cukup untuk lima hari.

“Kebutuhan sudah membaik. Saat ini (stok) sudah di atas 15 hari,” ungkapnya kepada Wartawan di Jakarta , Selasa (27/04/2021)

Menurutnya, kebutuhan batu bara di pembangkit itu relatif, namun pihaknya menginginkan agar stok batu bara bisa mencapai di atas 22 hari.

“Relatif, kita menginginkan di atas 22 hari,” tuturnya saat ditanya idealnya berapa hari stok batu bara.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, pihaknya memiliki beberapa skenario jika pasokan batu bara masih terus-menerus terkendala.

Pertama, menjaga keandalan pembangkit listrik dengan cara meminta produsen listrik swasta (Independent Power Producers/ IPP) untuk memaksimalkan produksi pembangkitnya.

Menurutnya, biasanya IPP memiliki cadangan stok batu bara antara 20-25 hari. Sementara PLN hanya sekitar 15 hari.

Lalu, stok yang ada akan dimaksimalkan. Misalnya, dia mendeskripsikan, stok PLTU yang biasanya 15 hari, lalu ada PLTU yang stoknya lima hari, maka batu bara akan terlebih dahulu dikirimkan ke PLTU yang stoknya lebih tipis.

Jika batu bara tidak kunjung datang, maka menurutnya penggunaan gas untuk pembangkit listrik akan dimaksimalkan.

Rida pun menyebut, jika pasokan gas pun masih dirasa kurang, maka opsi terakhir yang mau tak mau akan dijalankan yaitu menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

“Kalaupun nih gasnya sampai mentok, maksimum masih kurang juga, maka kemudian sangat sangat sangat terpaksa kita (beralih) ke BBM. Ini akan meningkatkan biaya pokok tenaga listrik kalau dipilih jadi opsi,” ungkapnya.

Exit mobile version