PLN Siap Peta untuk Pensiunkan PLTU, Apa Kata Produsen Batu Bara?

LISTRIKUPDATE.COM- PT PLN (Persero) bersama pemerintah mulai menyiapkan peta jalan untuk mempensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara mulai tahun 2025 mendatang.

Langkah ini menjadi upaya untuk menuju netral karbon pada tahun 2060 dan merupakan komitmen PLN untuk memenuhi target 23 persen energi baru terbarukan (EBT) pada bauran energi pada 2025.

Dengan demikian maka penggunaan dan permintaan batu bara akan menurun drastis.

“Kami menyiapkan peta jalan retirement (pensiun) PLTU batu bara untuk mencapai karbon netral pada 2060. Tahapan monetisasi PLTU batu bara sebesar 50,1 GW hingga 2056 akan dilaksanakan dan menggantinya dengan EBT secara bertahap,” papar Executive Vice President Komunikasi Korporat dan CSR PLN, Agung Murdifi, dalam rilis PLN, Senin (09/08/2021).

PLN telah menyiapkan transisi menuju energi bersih sebagai respons terhadap perubahan iklim dan tren penggunaan EBT secara global.

Hal ini melandasi perseroan dalam menyiapkan berbagai langkah pengembangan pembangkit berbasis EBT di Kawasan Indonesia Timur.

PLN pun telah menyiapkan sejumlah strategi untuk melakukan konversi pembangkit dari sumber-sumber berbasis fosil ke EBT.

Pada tahap pertama, PLN akan melakukan konversi PLTD di 200 lokasi ke EBT.

Semua ini menurutnya, merupakan bagian dari komitmen PLN untuk memenuhi target 23 persen EBT pada bauran energi pada 2025.

Komitmen yang sama ditegaskan untuk pencapaian net zero emission pada 2060.

Untuk pembangunan pembangkit EBT, PLN akan melakukannya dengan cermat.

Apabila di suatu daerah, suplai listriknya sudah melebihi kapasitas, maka penambahan pembangkit perlu diselaraskan dengan kebutuhan sistem.

“Pertama, Keselarasan supply dan demand. Kedua, affordability (keterjangkauan) dan berikutnya sudah barang tentu environmental (aspek lingkungan),” ujarnya.

PLN melalui semangat tranformasi menurut Agung, akan memperhatikan 3 aspek penting ini sebagai bagian dari upaya menerapkan pilar Green.

Transformasi lewat pilar Green diharapkan dapat berkontribusi dalam pencapaian target bauran energi baru terbarukan nasional sebesar 23 persen pada tahun 2025 mendatang.

Agung menambahkan, PT PLN (Persero) menargetkan tambahan pembangkit berbasis hidro sepanjang tahun 2021.

Langkah ini untuk mendukung upaya PLN meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT) di sektor kelistrikan.

Hingga Juni 2021, realisasi penambahan kapasitas PLTA dan PLTM telah mencapai 142,8 MW.

Pembangkit hidro yang telah mendapatkan Sertifikat Layak Operasi/beroperasi hingga semester I 2021 yaitu PLTM Cikaso 3 berkapasitas 9,9 MW, PLTM Cibuni Mandiri 2 MW, PLTM Cikandang 6 MW, PLTM Lawe Sikap 7 MW, PLTM Cibanteng 4,2 MW.

Selain itu, PLTM Kumbi Sedau 0,9 MW, PLTM Gunung Wugul 3,3 MW, PLTM Parmonangan-2 10 MW, PLTM Pelangai Hulu 9,8 MW dan PLTA Malea 90 MW.

“Proyek-proyek ini merupakan wujud nyata transformasi PLN melalui aspirasi Green, dengan terus meningkatkan bauran EBT dalam penyediaan listrik nasional,” ujar Agung.

Realisasi target masih dapat terus bertumbuh seiring dengan perkembangan proyek pembangkit.

Rencana PLN dan pemerintah tersebut kemudian mendapat respons dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI), produsen PLTU berbasis batu bara.

Direktur & Sekretaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Dileep Srivastava mengatakan, pihaknya akan mendukung langkah PLN untuk menuju energi nasional yang lebih bersih. Perusahaan pun akan mencermati langkah PLN dalam proses peralihan ini.

“Kami berkomitmen untuk memasok batubara di dalam negeri dan memenuhi kewajiban pasar domestik kami,” tegas Dileep, dikutip CNBC Indonesia.

Saat ini di Indonesia untuk sumber energi terbarukan menurutnya masih menghadapi kendala konsistensi, baik pembangkit tenaga surya, angin, ataupun panas bumi.

Padahal permintaan listrik 10-20 ke depan akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan nasional, sehingga dia memperkirakan batu bara masih akan diperlukan.

“Kami percaya bahwa permintaan batu bara akan segera stabil di sekitar saat ini, atau bahkan mungkin sedikit meningkat saat kami mulai hilirisasi ke gasifikasi,” ujar dia.

Dengan tren batu bara yang masuk kepada hilirisasi, menurutnya volume permintaan dalam jangka menengah tetap stabil.

“Kami akan mendukung PLN dan bangsa dalam upayanya untuk energi hijau, dan kami mengambil langkah-langkah di lokasi kami sendiri ke arah ini, apakah itu CSR, apakah itu polusi, apakah itu pembakaran batu bara bersih, dan kami melihat proyek, di mana kita bisa sampai batas tertentu mengendalikan emisi,” tambah Dileep.

Salah satu upayanya, BUMI melalui anak usahanya PT Kaltim Prima Coal juga telah mengolah dan pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dan mencari cara bagaimana menggunakannya secara komersial.

Lewat program Sustainable Development dalam bidang Lingkungan, yakni pemanfaatan FABA yang sebelumnya termasuk dalam daftar jenis limbah B3 ternyata dapat dimanfaatkan dan memberikan nilai tambah ekonomi.

“Kami mengamati persyaratan ini dengan sangat cermat sehingga kami akan bergerak ke depan, dan kami akan berpartisipasi dengan campuran yang sehat dari batu bara termal yang lebih bersih, dan masuk ke proyek hijau,” kata dia.

TERBARU

spot_img