Selamat Datang di Era Baru Pengelolaan FABA

Listrik Update-Setelah Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) menjadi sorotan banyak pihak. Hal ini terjadi karena ada perubahan status FABA dari yang sebelumnya dikategorikan limbah B3 menjadi limbah non B3.

Sebagai informasi, FABA adalah limbah padat yang dihasilkan dari proses pembakaran batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) menjadi bahan baku keperluan sektor konstruksi dan infrastruktur, bahkan pertanian.

Perubahan status pada FABA ini disambut baik oleh Perusahaan Listrik Negara (Persero). Executive Vice President Komunikasi Korporat dan CSR, Agung Murdifi, menyatakan PLN siap mengoptimalkan FABA menjadi sesuatu yang bermafaat bagi masyarakat luas.

“Di negara-negara lain, seperti Amerika Serikat, Jepang, Eropa, India dan beberapa negara lain hal ini bukanlah sesuatu yang baru dan mereka tidak memasukan FABA ke dalam kategori limbah B3,” tutur Agung Murdifi, dalam keterangan yang diterima, Selasa (16/3).

FABA diketahui tidak mengandung unsur yang membahayakan lingkungan berdasarkan hasil uji laboratorium independen atas Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) dan Lethal Dose 50 (LD50) yang sample-nya berasal dari beberapa PLTU. Dari pengujian toxicology-pun menunjukkan bahwa abu batu bara (FABA) yang diteliti dapat dikategorikan sebagai limbah tetapi bukan B3.

PLN juga memastikan tidak akan membuang limbah-limbah tersebut tetapi akan lebih mengoptimalkan pemanfaatannya. Hal ini dikarenakan FABA dapat memberikan nilai ekonomi, terutama bagi masyarakat. PLN juga akan bekerja sama dengan banyak pihak, terutama UMKM untuk memaksimalkan pemanfaatan FABA.

“Kami telah melakukan berbagai uji coba dan mengembangkan agar FABA hasil pembakaran di PLTU bisa dimanfaatkan dan hasilnya sangat menggembirakan. FABA bisa dimanfaatkan untuk bahan penunjang infrastruktur seperti jalan, conblock, semen, hingga pupuk,” ungkap Agung.

Agung menyebutkan contoh sukses PLN dalam pemanfaatan FABA untuk bahan konstruksi rumah yang dilakukan PLTU Tanjung Jati B. Di PLTU yang berlokasi di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, limbah FABA sendiri telah berhasil menjadi berkah bagi masyarakat sekitar. Berbekal izin dari Kementerian LHK, PLTU Tanjung Jati B menyulap FABA menjadi batako, paving dan beton pracetak yang digunakan untuk kegiatan CSR pembangunan rumah warga tidak mampu di sekitar pembangkit tersebut.

“Hasil olahan dari limbah FABA itu kami manfaatkan untuk merenovasi rumah di sekitar PLTU Tanjung Jati B,” kata Agung.

PLN meyakini pemanfaatan FABA dapat memberi harapan baru pada infrastruktur yang lebih murah dan kualitas lingkungan yang lebih baik

“PLN yakin momentum ini sebagai era baru pengelolaan FABA. Memberi harapan baru pada infrastruktur lebih murah dan kualitas lingkungan yang lebih baik,” pungkas Agung.

 

TERBARU

spot_img